Write

I think the best activity to do when you’re in doubt is to write it. You need to reconnect to your deep personal self. Removing all your doubt.

Adaptasi Kebiasaan Baru (Running)

Halo, it’s been a while. Dulu Saya bukan orang yang keranjingan olahraga. Saya bakal olahraga seperlunya saja, bahkan dulu karena ada olahraga yang yang disediakan kantor setiap hari Jumat, makanya Saya ikutan. Padahal Saya paham bahwa olahraga itu banyak banget manfaatnya untuk tubuh, cuma yaa.. sekedar paham aja hahaha. Lalu tiba-tiba keadaan berubah dan kita memasuki era Covid-19. Semua rutinitas yang biasa Saya lakukan, kegiatan yang biasa dilakukan di luar terhenti. Saya yang sudah berkali-kali mengalami culture shock, harus memulai kembali dari 0 karena belajar lagi culture baru yang belum pernah saya lakukan sebelumnya. At first it was suck ’cause I don’t know what to do.

Belajar untuk berkomitmen akan satu hal itu susah, apalagi jika baru dimulai. Saya ingat Saya pernah berada di masa yang ketika mau bangun pagi aja susah, kehilangan semangat dan selalu memiliki pikiran negatif. Bawaannya selalu saja lelah. Disitu Saya sadari bahwa keadaan pikiran Saya sedang tidak sehat. I felt stuck (in the moment). Felt that I accomplish nothing. Hal-hal yang biasa Saya lakukan tidak lagi terasa menyenangkan. Lalu beberapa bulan yang lalu Saya penasaran ada apa sih dengan hype sepedaan yang orang-orang lakukan. Kenapa booming banget sih? Kayanya sepedaan itu biasa aja deh. Terus akhirnya Saya memutuskan untuk join the crowd.

Perlahan bermain sepeda mulai menghapus awan kelabu yang ada dipikiran Saya, Saya menjadi ceria kembali, mulai memandang sisi positif dunia lagi. I love that. Akhirnya hampir setiap hari Saya mencoba untuk meluangkan bermain sepeda dalam durasi satu jam. Lalu setelah sepeda, Saya mulai mencari olahraga apalagi ya yang mengeluarkan banyak keringat, lalu akhirnya Saya mencoba Nike Run Club (nope, this is not a sponsored post). I used to hate running so much, ngapain coba ada orang yang suka merasa mau pingsan setiap habis lari. Dan ternyata cara lari Saya salah selama ini, makanya ga pernah menikmati perasaan refresh sehabis lari. Dengan bantuan @coachbennet Saya mulai belajar lagi dari 0 seperti apa esensi lari, dan Coach Bennet selalu memberikan insight yang menarik untuk menjadi bahan pemikiran.

So, I dare you to start running, to start working out, to start healing.

Resilient

The answer, I’m guessing, is probably the best and most sustaining answer to nearly every question arising inside a marriage, no matter who you are or what the issue is: You find ways to adapt. If you’re in it forever, there’s really no choice.

Michelle Obama, 2018

Fenomena Infinite Scrolling pada Sosial Media

Pernah kepikiran ga sih kenapa media sosial itu begitu adiktif? Kenapa yang awalnya niat bentar aja main media sosial malah menghabiskan waktu berjam-jam melakukan infinite scrolling. Jadi infinite scrolling itu apa sebenarnya? Ok mari kembali kepada awal abad ke-20 dimana kita terbiasa dengan stopping cues. Secara general, stopping cues adalah sebuah sinyal bagi kita untuk melanjutkan kegiatan lain, melakukan sesuatu yang baru atau sesuatu yang berbeda ketika selesai melakukan sesuatu. Contohnya ketika film telah selesai, maka kita akan berhenti kemudian mematikan televisi/laptop/smartphone, tidak terpaku lama pada device tersebut. Namun saat ini media sosial tidak lagi memiliki stopping cues.

Dengan hilangnya stopping cues dari media sosial maka kita akan cenderung untuk melakukan scrolling tanpa ujung (infinite scrolling). Tidak ada lagi batasan konten, akan selalu muncul konten-konten yang serupa sesuai dengan preferensi kita. Fenomena ini terjadi pada media sosial seperti facebook, instagram, youtube, email, portal berita dan aplikasi pesan/chat. Aplikasi tersebut didesain sedemikian rupa sehingga kita terjebak ke dalam loop hole penggunaanya. Tidak seperti media tradisional koran yang akan habis dibaca, atau siaran televisi yang habis waktu tayangnya, aplikasi terbaru tidak memiliki batasan untuk kita berhenti menggunakannya. Scrolling menjadi hal yang biasa, tidak ada ujungnya, orang-orang terus disuguhi hal-hal yang menarik minat.

Fenomena ini menyebabkan orang semakin lama menghabiskan waktunya di depan layar. Karena smartphone hampir menyediakan semua kebutuhan sekunder melalui ketukan jari. Interaksi antar manusia sudah mulai berkurang dan waktu penggunaan smartphone semakin meningkat. Kalau sudah begini maka yang dirugikan adalah user. Sisa waktu kurang lebih 5 jam yang tersisa dalam 24 jam setelah dikurangi waktu untuk tidur, bekerja dan bertahan hidup seperti makan dan menggunakan toilet termakan dengan kegiatan infinite scrolling tersebut. Dalam waktu pribadi singkat tersebut, mencoba untuk mengikuti perkembangan dunia, mencari informasi terbaru, atau sekedar menjernihkan dari kejenuhan, merehatkan diri telah membuat orang-orang semakin tidak bahagia. Perubahan teknologi tersebut telah menggeser fungsi pokok telepon untuk menghubungi orang menjadi smartphone yang menyedot atensi.

Me and My Pickiness

Jadi.. Saya ada pengakuan yang mau dibuat. I’m a picky person. Anaknya banyak maunya, hihi. Kadang saking spesifiknya apa yang Saya mau, membuat susah untuk memenuhi keinginannya. Tapi apakah Saya menyesal memiliki sifat seperti itu? Kayanya engga sih, karena apa yang Saya pilih sesuai dengan keinginan Saya. Hehe. Paling kalau dengan team, itu beda lagi, Saya harus mampu menyesuaikan diri untuk kebaikan bersama. Aneh ya, I know. Tapi ga sedikit kok yang punya sikap ini. To stand up for what you believe. Cuma karena banyak mau, Saya harus muter-muter dulu jadinya, it takes time, but that’s OK. I’m willing to take the risk, unless udah deket-deket deadline, baru deh. Hehe

Sebenarnya lebih baik sih tahu apa yang kamu mau, jadinya akan lebih mudah melangkah ke depan, dan ga ragu-ragu ditengah jalan karena telah memiliki ketetapan hati. Dengan mengetahui keinginan, kita juga akan lebih fokus. Terus tahunya dari mana ? Dari pengalaman hidup, dari eksperimen yang dilakukan, dari keisengan bermanfaat. Susah? Tentu saja, dan ditengah jalan akan ada orang yang mempertanyakan pilihanmu, itu pasti. Disitulah ketahananmu diuji, sejauh mana kamu meyakini pilihanmu itu sendiri. Namun juga ga boleh bodoh, harus sadar jika memang pilihan yang diambil tidak baik. The art of balancing is hard, but you’ll get through this. You’ll be okay.

Guilt Trip

Jadi Saya punya pengakuan yang mau diceritakan, dan ini sudah dari tahun 2017 terjadi. Well if you knew me, Saya suka banget memelihara ikan dan kura-kura. Kebiasaan itu dimulai sewaktu Saya kerja, karena Saya orangnya mudah bosenan, jadilah Saya pelihara ikan cupang di meja kerja untuk menghibur dan menghilangkan jenuh. Iya, bahkan dulu pernah punya aquarium berbentuk bola dengan oksigen di dalamnya haha (maafkan ya dulu yang pernah duduk seruangan dengan Saya), karena suaranya mengangggu. So anyway, ikan kesayangan saya akhirnya meninggalkan Saya terlebih dahulu, jadi Saya menitip ikan ke teman Saya yang sedang keluar makan siang, ternyata ikan yang Saya mau habis, lalu Saya malah ditawarkan untuk memelihara kura-kura oleh teman Saya. Dan tentu saja dong Saya iyakan.

Kura-kuranya gede, sudah sebesar telapak tangan. And I immediately falling for him/her. Sampai sekarang Saya ga tau jenis kelaminnya apa, yang penting lucu. Welp, karena badannya gede, ga mungkin Saya pelihara di aquarium rumah, karena jarak kura-kuranya untuk berenang tidak luas. Dengan berat hati Saya lepaskan di kolam belakang rumah. Kolam itu sebenarnya kolam kosong, karena ikan-ikannya sudah dipindahin oleh Papa. Paling hanya tinggal beberapa ikan-ikan kecil dan ditumbuhi oleh tanaman air. Airnya paling hanya setinggi betis kaki orang dewasa. Dan kura-kuranya langsung menyesuaikan hidupnya di dalam kolam, dan tinggal di dalam goa kecil di samping kolam. Namun disini Saya mulai merasa bersalah. Sempat kepikiran sama Saya di awal, sama siapa kura-kura tersebut akan tinggal, menghabiskan hari-harinya di sana. Saya selalu melihatnya sendirian berenang, mencari makan sendiri. Ok, Saya benar-benar merasa bersalah, ga tega melihatnya seorang diri.

Perasaan bersalah ini, Saya bawa sampai sekarang. Kalau Saya melihatnya muncul ke permukaan, Saya akan merasa sedih membayangkan dia hidup sebatang kara. Sempat kepikiran karena kolamnya kering di bulan kemarau, mau Saya bawa ke rumah biar kura-kuranya ga merasa kesepian. Tapi karena kura-kuranya gesit, ga pernah berhasil saya tangkap haha. Keponakan Saya juga cerita, ketika mereka melihat kura-kura Saya, bahwa mereka juga memelihara kura-kura di rumah, pemberian oleh tukang yang menemukannya. Sampai disini, Saya hanya tersenyum saja, tidak penasaran atau ingin melihatnya. Tiba-tiba beberapa bulan setelah cerita tersebut, keponakan Saya membawa kura-kura yang selama ini diceritakan. Ukurannya kira-kira sama dengan kura-kura Saya. Katanya mau dititip ke rumah karena suka makanin ikan di kolam rumah keponakan Saya.

Keadaannya sudah berlumut, Saya sikatin sampai badannya bersih semula. Terus Saya taruh lagi dalam ember yang dipakai untuk membawanya. Kesibukan mengurus ponakan membuat Saya melupakannya, sampai akhirnya dia bergerak-gerak menarik perhatian Saya. Lalu Saya bawa ke kolam belakang untuk dilepas. Dan dia langsung lari dong ke dasar air, pas Saya taruh dipinggir kolam. And I said, semoga kerasan ya tinggal disini. Keesokan harinya Saya sudah melihatnya bermain bersama kura-kura Saya, kura-kura Saya sudah tidak sendiri lagi. Yeay! Perasaan bersalah yang selama ini Saya rasakan akhirnya terangkat sudah. Sekarang mereka sering terlihat berdua, lucu bagaimana Saya memikirkan bahwa mereka dua kura-kura yang berasal dari tempat yang berbeda, end up di tempat yang sama. Selamat menghabiskan sisa umur kalian berdua ya kura-kura.

A Note to Myself (2020)

It’s been quite a journey. Untuk berjalan, terjauh, berlari dan bernafas. Aku tahu sebuah proses pendewasaan itu tidak mudah untuk kamu yang sedang terengah-engah dalam ombak ketidakpastian. Kamu yang memutuskan untuk bertahan dalam badai sampai akhirnya tiba di sini. Begitu banyak orang yang selisih hadir serta pergi meninggalkan. Itulah hidup. Kita tidak bisa mengharapkan keadaan untuk terus sama bukan? Aku sadari jenuh tidak dapat dihindari, begitu juga dengan kebahagiaan yang selalu datang bergantian. Aku tahu kamu juga bukan orang yang sabar, dan itu tidak baik (haha). Aku harap kamu tetap kamu lakukan adalah melangkah maju selelah apapun itu.

Mungkin jawabannya bukan sekarang, mungkin masih dimasa depan. Maafkanlah walaupun sulit, karena kamu juga tidak sempurna. Jangan lupa untuk selaku bersyukur, selalu berbuat baik. I know it aint easy. It’s okay to make mistakes. You’ll learn along the way. Give a chance for yourself to feel happy, to feel love, to give people of your heart. Mulailah fokus terhadap kebaikan diri sendiri. Jangan membuang waktu tidurmu untuk hal yang bisa dilakukan lebih awal, atau jika tidak sempat kamu bisa menyelesaikan pada esok hari. Jangan cepat merasa bosan, nikmati waktu yang tersedia.

Mungkin dunia tidak akan sempurna seperti yang kamu rencanakan, maka dari itu ikhlas dan percayakan semua rencana Allah. Dunia pada hakikatnya hanya sementara, jangan fokuskan energimu pada rencana yang gagal. Sadari bahwa tidak semua orang memiliki perspektif yang sama, and it’s okay untuk melihat dari sisi lain. You did good, and you should proud of yourself.

Sidenote: Saya sadari selama ini Saya menulis untuk orang lain, jarang sekali Saya menulis untuk diri sendiri. Jadi ketika saya melihat tweet ini:

https://platform.twitter.com/widgets.js

Hmm bagian dalam diri Saya jadi ter-intrigue (Yep, ini tata bahasanya sungguh berantakan). Tidak adil rasanya banyak menulis untuk orang namun diri sendiri terlupakan. This time I will start to take care of myself better. Insya Allah.

The Reason

I keep writing in order someday, someone would hear my voice. The voice that has been drifting apart and powerless. It’s been a lonely road, sometimes it hurts. I keep searching for someone who know how to love me. I always say, if it was mean to be then it was gonna be easy l, no rush, no hesitation. I need to trust Allah’s plan and timing to find you.

%d bloggers like this: