Melihat ke Diri Sendiri

Belakangan Saya sadar, kenapa selama ini Saya menulis, terutama disaat Saya merasa sedang tenang dan bersemangat. Ini adalah cara Saya untuk mempertahankan state of mind. Untuk tetap “waras”. Setiap Saya kembali ke tulisan-tulisan Saya, Saya berpikir, “Wah iya juga ya, kemarin udah ngerasain itu, begini solusinya, tidak perlu khawatir”. Kadang itu, karena terdistraksi kita lupa akan hal-hal yang kita anut. Lupa akan pegangan diri dan kemudian diri sendiri lah yang mengingatkannya.

Saya kebanyakan menulis ketika merasa letih dan tidak melihat ujung horizon dari suatu hal, atau ketika Saya terinspirasi sekali. Atau ketika menemulan pembelajaran ketika mengobrol dengan senior. Tapi kebiasaan ini sulit banget untuk dipelihara, menulis membutuhkan waktu dan state of mind, dan akhirnya Saya malah memutuskan untuk mengabaikannya padahal menulis itu adalah salah satu bentuk terapi bagi diri Saya haha. I know, I’m a fool.

Kadang kita kebiasaan untuk berfokus ke hal lain, berjaga-jaga mencari info, kesenangan sampai lupa mengecek diri sendiri. Mencoba untuk mencari mengerti situasi. Akhirnya kerepotan sendiri dengan menjadi detektif amatir. Well hampir selalu, hidup itu tidak bisa terprediksi, bahkan tidak 2 detik ke depan. Selalu ada tanya “What if“,  pertanyaan sia-sia yang selalu muncul belakangan menanggapi situasi yang tidak kita inginkan…

Yang bijak adalah ketika kita cukup mengamati situasi seperti apa-adanya, tanpa perlu memusingkan hal yang kita tidak ketahui hakikatnya. Mencoba untuk tetap fokus ke hal yang ada di hadapan kita. Menarik dan menghela nafas dengan teratur. Kadang jawabaannya bukan di orang lain kok, tapi di diri sendiri yang lupa.

Banyak hal yang akan terus menghantui dan menjadi pertanyaan, namun hal itu tak sebanding dengan sakit kepala yang didapat ๐Ÿ˜… Kalau penasaran dengan sesuatu boleh kok di konfirmasi, tapi kalau tidak dapat jawabannya ya tidak masalah. Antara penasaran dengan jawaban bukan masalah hidup atau mati toh. Yup, walaupun akan greget karena tidak mengetahui jawabannya.

Jadi kalau lagi ingin mencari tau sesuatu apa yang harus dilakukan? Bertanyalah pada ahlinya, itu saran Saya. Kadang walaupun kita punya sahabat, mereka belum tentu mengerti posisi dan solusi untuk ditawarkan. Malah kadang akan membuat pusing sahabat kita juga. Tidak bijak untuk menimpakan kekhawatiran kepada sahabat kita tanpa ia sendiri tau jawabannya. Mungkin untuk mencari support boleh, tapi kalau yang diceritakan itu lagi itu lagi, mungkin ia akan jenuh.

Jangan sedih, jangan gundah, karena apa yang sudah terjadi memang sudah takdir Allah SWT. Sulit emang untuk menyadari bahwa tali kendali bukan di Kita ๐Ÿ˜ฅ kadang bisa aja lupa karena sibuk menjalani kehidupan atau bahkan menghindari kehidupan. Tidak apa-apa itulah seni kehidupan. Walaupun Saya juga tidak memahami seratus persen (haha gaya aja itu mah).

Tidak apa-apa, bisa yok untuk menemukan solusi, walau bukan sekarang. Yok dilalui dengan perlahan dengan mata terbuka lebar meniti arus kehidupan dengan keyakinan pada diri sendiri. ุจูุณู’ู…ู ุงู„ู„ู‘ูฐู‡ู ุงู„ุฑู‘ูŽุญู’ู…ูฐู†ู ุงู„ุฑู‘ูŽุญููŠู’ู…ู

Keyakinan

Pernah ga sih ngebet banget dulu ingin sesuatu, dan sekarang malah bersyukur tak mendapatkannya? Dan merasa you dodge the bullet? Saya sering. Banget. Setiap tahu kenyataannya, Saya bersyukur banget. Jika kemarin Saya mendapatkan apa yang Saya inginkan, Saya ragu Saya akan menikmatinya ๐Ÿ™‚ Mungkin pada awalnya pikiran kita penasaran, what went wrong? Apa persiapan kurang, apakah kita ga cukup baik, apakah kita ga berhak? Semua pertanyaan yang merusak kekukuhan jiwa. Masih bergejolak tidak menerima takdir. Kadang kebenaran yang kita dapatkan bisa jauh setelah hal itu. Bertahun-tahun kemudian ketika sudah melupakannya. Bahkan sering kali kita tak menyadarinya, terlewat begitu saja di depan mata. Kalau dipikir dulu lucu, kenapa harus ga menerimanya. Kenapa dulu suka bingung dan ga percaya sama rencana Allah. Mudah bagi Allah untuk mewujudkan segalanya, cuma kita diminta sejauh mana kita yakin.

– June 1, 2021

Pengalaman Vaksinasi AstraZeneca

Hai, apa kabar? Kali ini Saya mau cerita tentang pengalaman kemarin Saya divaksin AstraZeneca (AZ) pada tanggal 7 April 2021. Jauh sebelum itu Saya sudah baca gonjang ganjing nya, mulai dari warga German yang menolak nya, dan lebih memilih vaksin Pfizer dan Moderna, dan beberapa negara yang memutuskan untuk penghentian penggunaan vaksin AZ ke warganya. Tapi menurut Saya berita terkadang bias, mengembar-gemborkan hanya dari satu sisi, yaitu sisi yang menarik untuk dijadikan pemberitaan. Kami sekeluarga meyakini bahwa mendaftarkan diri untuk divaksin membawa manfaat lebih baik dibandingkan mudaratnya.

Pada dasarnya, vaksin ini bertujuan menyuntikkan virus Covid-19 yang sudah dilemahkan, agar kemudian tubuh kita dapat mengenali virus tersebut, sehingga kedepannya jika terpapar, tubuh memiliki pengetahuan dan kemampuan untuk menyerangnya. Alhamdulillah Saya salah satu yang beruntung bisa mendapatkan vaksin diawal, karena bekerja menjadi ASN dan tinggal di daerah perbatasan sehingga menjadi demografi yang diutamakan oleh Pemerintah.

Bagaimana prosesnya? Karena kebetulan Saya sedang kuliah, ternyata nama Saya dan teman-teman lain yang sedang kuliah juga tidak terdaftar dalam list pegawai yang menerima suntikan. Ketika kami melaporkan hal tersebut ke unit SDMO, baik banget kami dibantu untuk bisa mendaftar secara mendadak. Terima kasih SDMO, terharu. Lalu Saya datang melapor ke kantor, diberikan format skrinning sebelum vaksinasi, yang tujuannya untuk melakukan pemeriksaan dan mengeliminasi jika terdapat pegawai yang sedang dalam kondisi tidak fit. Mulai dari pertanyaan mengenai suhu dan tekanan darah, apakah pernah menjalin kontak dengan pasien positif Covid-19 atau terkontaminasi, riwayat penyakit dan juga ada pertanyaan khusus untuk lansia.

Setelah selesai mengisi form tersebut, Saya diarahkan untuk melakukan pemeriksaan tekanan darah oleh Dokter dan Suster yang bertugas, jika tensi OK, akan dilanjutkan dengan penyuntikan vaksinnya. Biasanya area penyuntikan vaksin dibedakan antara wanita dan pria karena untuk menjaga aurat. Ketika Saya sampai bilik vaksinasi, sudah ada Dokter yang menunggu, lalu Saya duduk dan Dokter menyuntikkan vaksin.

Kalau ada dua hal yang Saya ingin peringatkan, jangan lupa pilih lokasi tangan kiri untuk disuntik, kenapa? Karena selama 3 hari kedepan, tangan akan terasa kebas dan sulit untuk bergerak bebas. Dan jangan langsung minum minuman yang mengandung es dan bergas. Hal ini untuk menghindari deman setelah vaksin.

Setelah itu kami dipersilahkan untuk duduk dan menunggu selama 30 menit untuk diskrinning kembali. Setelah itu Saya menerima kartu tanda telah divaksin dan diberitahukan tanggal untuk kembali mendapatkan vaksin yang ke-2.

Sehabis vaksin, alhamdulillah Saya merasa baik-baik saja. Namun kemarin karena untuk jaga-jaga Saya minta diantar adik Saya ke kantor, khawatir tidak fit membawa kendaraan. Efeknya baru Saya rasakan hari berikutnya, mulai dari tangan tempat penyuntikan merasa kebas, dan bawaannya ngantuk. Tubuh Saya terasa sedikit panas, tapi gapapa karena itu menandakan tubuh Saya sedang melawan virus yang sudah dilemahkan. Recovery Saya memakan waktu 3 hari, dengan kegiatan bangun, makan dan tidur. Tapi banyak juga yang sehabis divaksin sehat-sehat saja dan tidak berpengaruh ditubuhnya. Setiap orang berbeda-beda daya tahan tubuhnya menerima vaksin. Jadi jangan takut vaksin ya, semua nya proses untuk imun lebih kuat. Segera daftarkan diri untuk mendapatkan dosis vaksin.

Perjuangan Melawan Covid Belum Usai

Ini udah isu lama, tapi kenapa masih aja ada yang berani ga pakai masker sih ketika ngumpul-ngumpul bareng temennya? Suka ga bawa hand-sanitizer, atau ga mandi habis dari tempat umum. Apakah informasi yang didapatkan oleh mereka berbeda ? Apakah mereka ga takut tertular Covid-19 dan varian lainnya? Seberapa yakin ia akan temen-temennya juga melakukan pola hidup pencegahan? Sesungguhnya frustasi melihat kita yang berusaha menjaga diri untuk keluarga, namun orang-orang yang bersinggungan langsung dalam hidup kita mengabaikannya. Come on Dude, you’re better than that.

Yes, Saya pernah sekali foto bareng temen ga pake masker, itu sudah berbulan-bulan yang lalu (6 bulan yang lalu lebih tepatnya), karena pada saat itu lagi “feel in the moment kali ya“. Tapi habis itu rasa bersalah menghantui Saya karena ga menjaga diri dan mematuhi protokol kesehatan. Alhamdulillah semuanya baik-baik aja. Bisa jadi karena kesenangan sesaat khawatir malah menyesal selama-lamanya.

Yang paling Saya khawatirkan ketika bertemu dengan teman-teman adalah membuka masker ketika makan, dan jika makan di restoran otomatis orang-orang disekeliling kita juga ga pakai masker. Pernah sekali pas Saya sedang melakukan perjalanan udara, tiba-tiba orang batuk, mungkin 3 sampai 5 kursi dibelakang Saya, kebayang ga tuh paniknya seperti apa ๐Ÿ™‚ Saya langsung double mask.

Kalau dulu pas ngumpul bareng temen, Saya suka nge-lapin meja nya pake alkohol, ga tau dampak pengaruhnya sejauh apa, but better be safe than sorry. Sedihnya adalah ketika belanja ke Pasar, hampir kebanyakan pedagang yang Saya temui tidak mengenakan masker. I don’t know what’s happening in there. Pemerintah udah berbuih-buih kali ngingetin untuk memakai masker.

Alhamdulillah Saya termasuk yang beruntung karena telah mendapatkan vaksin pertama, namun bukan berarti Saya seenaknya saja tidak memakai masker. Orang-orang di luar negeri sana berani melepas masker karena hampir seluruh warganya sudah divaksin, contohnya Inggris. Kalau kita yang tingkat vaksinasi warganya masih rendah kenapa lebih berani dari orang luar :’)

Lalu sekarang, tempat tinggal Saya di Batam seluruh wilayahnya Red Zone. Semua rencana yang Saya miliki bareng teman Saya cancel. Kalau lagi pengen makanan tertentu Saya take away, hanya akan duduk di cafe/restoran ketika sepi. Tentu kadang orang merasa jenuh dan terjebak di rumahnya, tapi tahanlah… ga rindu apa nonton konser bareng, ga rindu apa nonton bioskop, ga rindu apa karaokean. Yes Saya lihat beberapa teman Saya melakukan itu, but I’m not taking risk jika hanya untuk kenikmatan sesaat.

Lawancorona.batam.go.id

Please, jangan lengah dulu. Perjuangan kita belum selesai. Jaga diri terutama untuk orang tua, dan anak-anak yang masih kecil. Jangan lelah mematuhi protokol kesehatan, orang-orang disekitar kita masih banyak yang terjangkit corona, namun isu tersebut tenggelam karena orang-orang merasa jenuh dengan isu yang sama setahun lalu, sehingga mulai banyak yang lalai. Insya Allah keadaan akan berubah kalau kita berusaha bersama. Aamiin Ya Rabbal Alamiin.

Lawancorona.batam.go.id

Ps. Sebenarnya udah lama Saya mau ngebahas isu tentang Covid-19 ke teman Saya yang Dokter, hampir setahun lalu diinisiasi ga pernah jadi :’) katanya dia selalu tepar sehabis jaga, jadi ga sempat ngabarin. Yaudah gapapa, manatau ada teman Dokter lain yang mau diwawancara. Jadi ya hanya beginilah tulisan yang dapat Saya buat, sepemahaman Saya saja. Saya takut berbicara diluar batas pemahaman Saya. Informasi mengenai Covid-19 dapat dilihat dari WHO, penjelasan di Youtube dan dari twitter-twitter dokter INA dan luar negeri yang cukup aktif membahasnya secara berkala.

Info dari CDC

Ekspektasi ke Orang Lain

Sadar ga sih kalau terkadang kita berbuat ga adil ke orang lain dengan memberikan ekspektasi tertentu, sedangkan itu bukan dirinya. Kita berharap orang akan berlaku sedemikian rupa dan memiliki pandangan yang sama dengan semua orang. Well guess what? Ga semua orang kadang menyetujui norma sosial yang kebanyakan dianut oleh orang lain. Rasa jengkel itu adalah sesuatu yang tidak dapat dihindari, namun manfaatnya juga tidak ada ๐Ÿ™‚

Sebenarnya yang perlu ditanya adalah diri kita sendiri. Kenapa kita merasa perlu seseorang untuk berlaku sedemikian rupa? Adakah ada isu yang belum beres atau kebiasaan yang sulit dilepaskan? Ketika kita menerima orang lain sesuai dengan karakteristik yang dimilikinya, suddenly dunia terasa lebih nyaman. Next time, kitanya aja yang perlu hati-hati dalam bertindak dan mengantisipasi tindakan orang lain.

I like this a lot:

Yang dibutuhkan adalah sedikit empati dan kemauan untuk memahaminya (kesabaran). Tapi… kalau untuk diri sendiri kita Saya rasa perlu untuk memberikan ekspektasi, itu adalah salah satu jalan untuk mewujudkan goals. Sepanjang ekspektasi tidak menjadi obsesi. It’s time to move on dan berdamai dengan diri sendiri. Saya rasa ini adalah salah satu bentuk pendewasaan dan membebaskan diri dari hal yang membelenggu jiwa. Toh keinginan kita tidak dapat mengubah keadaan. Mungkin ga sekarang, mungkin nanti kamu bisa melihat dari perspektif yang lebih luas. Insya Allah it will makes sense someday.

Hati-hati sebelum Melepas Domain

Jika kamu seperti Saya yang emang dari dulu bercita-cita banget punya domain pribadi, take a lesson from me. Sebenarnya alasan punya domain bagi Saya juga ga terlalu personal, cuma keren aja ngeliat alamat website tanpa ada ujung wordpress/blogspot/wix dll dibelakangnya. Tapi karena dulu masih kecil, dan belum bisa menghasilkan duit sendiri, jadi deh pake akun gratisan hehe. Dan sampai akhirnya Saya punya domain triadarabarlian.com itu sekitar tahun 2019 bulan april. Cuma karena wordpress plan itu wasting money menurut Saya a.k.a tidak menghasilkan akhirnya saya cancel plan-nya. Sedih tentunya, tapi sayang aja gitu kalau dana nya malah jadi mubazir.

Tapi ya namanya hati manusia suka berubah, akhirnya pengen lagi nih punya domain nama pribadi. I’m a cheap person, lol ga mau rugi kalau beli domain lagi. Semula Saya pikir ketika dengan upgrade plan di wordpress, otomatis triadarabarlian.com akan menjadi milik Saya lagi dong. Ternyata domain Saya udah dilepas dan diambil oleh penyedia domain lain. Ga seru dong, udah utak-atik sana sini, tetap ga bisa di setting untuk domain tersebut ditransfer ke website Saya. Pas Saya cek, kok jadi mahal banget, ditawarkan 41 juta untuk domain yang menurut Saya ga ada harganya :’)

Screenshoot dari godaddy.com

Tuh kan becanda Saya bilang, kayanya website-website penyedia domain ini tuh, sama kaya pemakan domain bekas, ketika dilepas mereka langsung ambil untuk bisa dijual lagi kalau pemilik sebelumnya tertarik. Ga salah sih bisnis begini, cuma engga fair aja menurut Saya kalau mereka ngejual lagi dengan harga tinggi yang ga masuk akal.

Sebenarnya bisa aja Saya punya domain lain seperti triadarabarlian.blog, triadarabarlian.org, dll. Dari wordpress nya juga menyediakan secara gratis ketika Saya upgrade plan. Cuma kurang dependable aja gitu kalau punya domain selain dot com. #kebanyakangaya Padahal isi website Saya juga ga tentu arah haha. Terus kan Saya mikir, gimana caranya tetap punya domain dot com tapi namanya masih relatable dengan nama saya. Saya juga sempat ngontak wordpess via email apakah domain tersebut bisa balik ke Saya.

Balesan email dari WordPress

Pupus sudah harapan ๐Ÿฅฒ memang sih salah Saya yang dulu melepas. Tapi kan ga gitu juga. (Masih tetep kekeuh). Tapi untuuung banget nama Saya itu terdiri dari tiga kata. Jadi Saya mikir, gimana kalau jadiin darabarlian.com aja, selama ini juga Saya selalu dipanggil Dara, jarang banget dengan Tria. Dan Alhamdulillah nya domain tersebut belum ada yang pakai, siapa juga yang mau make selain dari namanya coba haha.

So that’s a story from me. Dipikir-pikir lagi deh untuk melepas domain yang udah disuka, karena untuk ngedapetin nya lagi susah huhu. Dan pilih lah plan dari wordpress atau penyedia jasa lain nya dengan harga yang paling murah, kalau website nya belum menghasilkan just like me. I know ini mungkin bukan hal yang esensial bagi orang lain, but I think it would be nice if I know it before this happen. Saya ga masalah kok, Saya suka domain yang baru karena lebih singkat dan gampang diketik.

Kebenaran

Mencoba mengubah point of view dari diri sendiri dan melihat penjelasan dari pihak lain dibutuhkan banyak kesabaran. Kalau ditanya, emang kadang lebih enak dan seru mengandalkan logika pribadi, tapi masalahnya logika pribadi itu bias. Yang kita ketahui ya hanya sebatas yang kita ketahui. Makanya dalam penelitian itu wajib hukumnya wawancara, karena kita ga bisa paham dengan sendirinya, karena ga merasakan pengalaman pihak lain. Kadang emang merasa hopeless karena bergantung dari penjelasan pihak lain. Tapi sepertinya kalau tidak seperti itu, kapan kita akan paham kebenarannya.

Tapi ga semuanya juga bisa menjelaskan pointnya secara runut dan mudah dipahami, makanya harus pintar-pintar juga membaca situasi. Peneliti diminta untuk sigap & menerjemahkan kondisi dari berbagai sisi. Lalu apakah bisa salah baca keadaan? Yesss, most of the time. Makanya disuruh mencoba dan belajar berkali-kali, biarpun sakit tapi jalan untuk mencari kebenaran tak pernah putus. Yang bahaya adalah ketika kita berhenti mencari. Mungkin frustasi awalnya karena tak kunjung menemui jawabannya.

Gampang memang untuk memalingkan muka, dengan mencari pengalihan. Tapi lama-lama juga niscaya akan merasa tak kerasan, karena kebenaran itu ada, walaupun akan susah ditemukan. Yang bisa dilakukan adalah untuk tetap melangkah kedepan, at least sudah beranjak dari tempat memulai. Lalu bagaimana jika jawaban yang ditemukan tidak sesuai hati? Well… itulah kebenarannya, kita tidak bisa memilih jawaban yang kita suka. Tidak ada pengaruhnya ketika kita menyukai nya atau tidak, itulah kenyataannya.

Gapapa kok untuk berkeliling mencari kebenaran, gapapa untuk melihat dari segala sisi, gapapa untuk meninggalkan ruang nyamanmu. Gapapa untuk tidak mengerti pada awalnya. Lalu apa yang terjadi jika kebenaran sudah diketahui? Yang awalnya pengen banget tahu kebenaran, sekarang bertanya-tanya kembali haha. Hmm, mungkin kebenaran yang dimiliki sekarang bisa digunakan untuk melangkah pelan-pelan dengan penuh kehati-hatian?

Kalau disuruh milih, mengetahui kebenaran yang menyakitkan atau tidak tahu sama sekali mana yang akan dipilih? Pada akhirnya denial ada batas waktunya, dan mau ga mau kita akan dituntut menghadapinya. Jika mendapat pemahaman baru intinya kita diberikan pendewasaan tambahan. Siapa yang ga mau dong skill tambahan. Ya ga? Hahaha ada juga kok yang milih untuk stay in the dark, and that’s perfectly fine. But I rather know the truth.

Lalu bagaimana jika dipercayai untuk memegang kebenaran? Jika kebenaran itu membahayakan dirinya dan orang lain, ada baiknya disampaikan. Dan hal tersebut, tentunya akan menimbulkan ketidak nyamanan pada awalnya, lalu mudah-mudahan diikuti dengan ketenangan. Btw, kebenaranmu dan kebenarannya bisa berbeda loh, jadi kebenaran mana yang mau dipegang pada akhirnya? Jika kamu sudah melakukan segala usaha dan kamu memegang teguh prinsipmu, maka dirimu berhak untuk memegang kebenaran tersebut, namun hilangkan arogansi dan yakin tidak ada manusia yang sepenuhnya benar.

Semoga segera menemukan kebenaran.

Self Healing 2.0

Selama ini Saya selalu mencari ketenangan diri, mencoba mendapatkan fokus yang Saya miliki sewaktu kecil. Belakangan semuanya berantakan, realita di hadapan terasa blur. Sampai akhirnya Allah berikan hidayah kepada Saya untuk mulai lagi belajar syariat agama melalui kajian-kajian para Ustadz yang tersedia di Youtube. Mungkin ini terkesan simpel, tapi ketika mendengar ceramah-ceramah tersebut, pintu hati yang telah lama beku mulai terbuka kembali, ada kalanya Saya akan menangis ketika menyadari ternyata Allah SWT itu sayang sekali kepada Saya dan ternyata selama perjalanan hidup, masih banyak yang perlu Saya pelajari mengenai Islam.

Salah satu yang dicari dalam kehidupan adalah keberkahan dari Allah SWT. Namun terkadang Saya malah sibuk dalam hal duniawi yang non-esensial. Berfokus kepada hal yang sia-sia dan tidak mendatangkan manfaat. Mungkin kala itu termakan bisikan syetan dan tidak menyadarinya. Kembali kepada Allah benar-benar telah menyejukkan pintu hati Saya, walaupun masih banyak hal yang perlu diperbaiki kembali. Kareka ketika bersyukur dan memohon ampunan kepada Allah SWT, hidup memang terasa lebih mudah, lebih ikhlas menjalaninya. Mungkin selama ini Saya merasa kesulitan menjalaninya, karena tidak mengerti agama dengan baik serta banyak rahasia di dalamnya. Well pada akhirnya, memang hidup tidak akan dapat dimaknai hanya dengan menggunakan logika manusia.

Ya Allah hamba mohon kepada-Mu untuk dipertahankan dan ditambah lagi keimanan kepada-Mu berserta orang-orang dalam hidupku. Izinkan kami untuk terus istiqomah sampai akhir perjalanan kami didunia, kami titipkan dan mohon penjagaan semua yang ada pada kami kepada-Mu Ya Allah. Curahkanlah Kami petunjuk ketika kami sudah mulai lalai. Rahmatilah hidup Kami Ya Allah. Peliharalah dan perbaiki dunia, akhirat dan agama kami. Kami mohon pengampunan-Mu dari segala kesalahan dan kebodohan yang kami lakukan dengan dan tanpa disadari. Tiada daya dan upaya untuk meninggalkan maksiat dan tiada kekuatan untuk melakukan ibadah kecuali atas pertolongan Allah. (P.S. paragraf Ke-tiga terinspirasi dari buku Kumpulan Do’a Sehari-hari yang diterbitkan oleh Kementerian Agama RI pada tahun 2013).

Self healing tidak cukup hanya dilakukan untuk jasmani, namun juga harus dari hati dan pikiran. Ya mungkin travelling akan menghilangkan jenuhmu sejenak, atau mengalihkan pikiranmu dengan film akan membuatmu merasa lebih baik sesaat, namun itu semua akan sirna jika tidak benar-benar diobati dari dalam.

%d bloggers like this: