Melangkah Ke Depan

Dulu di 2019, adalah persimpangan hidup Saya mau melanjutkan kuliah lagi atau tidak. Setelah lulus di Tahun 2015, Allah menawarkan kesempatan untuk menempuh pendidikan lagi. Pada saat itu Saya meragu.. Hidup itu cuma bisa dijalani saja, tanpa kita punya kuasa untuk mengontrolnya. Dan ketika ada kesempatan, segera diraih. Betapa banyak ilmu yang Saya dapatkan selama 2.5 tahun belakang ini, dan Saya rasa Saya bakal menyesal jika tidak mengambil kesempatan belajar ini. Pernyataan “Hidup itu sudah ada yang mengatur” memang benar adanya.

Saya adalah orang yang penuh pertimbangan sebelum menjalani sesuatu, tapi juga kadang sifat impulsive nya juga suka kambuh. Tapi anehnya ketika mememukan orang yang terlalu berlebihan dalam pertimbangan itu malah bikin Saya agak sedikit menarik nafas, karena hal itu jadinya menghambat. Hidup di dalam keragu-raguan akan merugikan diri sendiri. Ragu akan kualitas diri atau ragu akan keahlian sangat disayangkan. Yang seharusnya bisa dicapai dengan banyak, bisa jadi malah terlewatkan. Tapi ini beda ya dengan over confidence.

Menilik keputusan yang Saya ambil di Tahun 2019, bisa dikatakan Saya tidak menyesal sama sekali mengambilnya, Saya sungguh bersyukur atas kesempatan yang diberikan. Saya kenal banyak orang, dengan pemikiran-pemikiran kritis, Saya jadi lebih aware dengan perkembangan hal terbaru, dan Saya dipaksa untuk berjuang lebih keras lagi secara mandiri. Saya dipaksa untuk bersabar, dan Saya belajar untuk memperbaiki diri. Sakit loh itu, hahaha tapi itu proses yang harus dilalui untuk level up.

Kalau Kamu merasa kecil ya memang akan ada lebih banyak orang yang hebat dibandingkan kamu, tapi kamu juga punya kesempatan untuk mengubah itu. Jangan memilih untuk berhenti ditempat, kamu punya kewajiban untuk mewujudkan angan-angan dan cita-cita kamu, walaupun ada kemungkinan gagal di perjalanannya.

Nikmati setiap langkahnya, nikmati setiap kesulitannya, hadapi ketakutan itu. Ketakutan bahwa kamu tidak bisa. Berani untuk menyuarakan pikiranmu dan berani untuk melalui petualangan baru bagaimanapun hasilnya. I know you like to control everything, but that belong to Allah. Jangan ragu lagi ya. Kalau kita berusaha maju untuk lebih baik lagi, insya Allah ga ada ruginya. Manfaatkan kesempatan sebaik-baiknya.

Talking Indonesia Podcast, An Eye Opening

Selama ini banyak isu di Indonesia yang tidak Saya pahami, entah itu karena kejadian nya terjadi ketika Saya masih kecil, atau pemberitaan yang hanya mencakup sedikit dari keseluruhan isu tersebut. Di tahun 2021 Saya ketemu Podcast Talking Indonesia. Sebuah keberuntungan yang luar biasa menemukan podcast terkait politik, situasi sosial, atau kebijakan dari pemerintah di kupas oleh para ahli dan kebanyakan telah bergelar Doktor. Jadi bener-bener berasa dijelasain secara menyeluruh dan tuntas. Dan karena Beliau-beliau sudah mumpuni dan ahli di bidangnya, terkadang banyak hal yang miss kalau kita hanya melihat isu dari mata orang awam. Mungkin karena bahasa yang digunakan Bahasa Inggris membuat beliau-beliau lebih nyaman dalam mengungkapkan fakta dan sedikit berkurang kekhawatiran di putar balikkan oleh BuzzeRp atau influencer.

Narasumbernya banyak berasal dari universitas di Indonesia, seperti Universitas Gadjah Mada, Universitas Indonesia dan Universitas Padjadjaran. Banyak juga dari mahasiswa S3 yang sedang berkuliah di luar negeri. Belakangan Saya tuh bener-bener jenuh dengan informasi yang berseliweran hanya sepotong-potong. Sekarang itu isi konten-konten di sosial media isinya cuma orang yang nge-share info tapi… ya gitu tujuan nya nge-share info hanya untuk konten. Beda sama orang yang benar-benar paham ketika menyampaikan sesuatu. Sorry, but mostly they want to gain followers not to encourage critical thinking. Lalu banyak hoax yang beredar khususnya mengenai topik politik, kesehatan dan agama. Apalagi yang disebar oleh oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Kadang suka terharu dan miris sih, orang-orang luar negeri (host podcast-nya) lebih paham tentang Indonesia dibandingin warganya.

Asimetri Informasi

Kebanyakan kantor di Indonesia tidak memiliki ventilasi yang layak dan menggunakan AC Central. Tracing juga sudah jarang dilaksanakan, padahal tracing dengan menggunakan antigen sudah “cukup” efektif untuk mendeteksi penyebaran awal. Ini adalah realita yang terjadi di kebanyakan kantor di Indonesia dan tidak lupa bahwa terdapat peraturan baru yang meniadakan kewajiban test PCR & Antigen sebelum melakukan perjalanan melalui darat, laut & udara. Padahal menurut penelitian terbaru, orang-orang yang terpapar Covid-19 terjadi penyusutan otak karena semakin banyaknya grey area terhadap pasien yang positif.

Sekarang adalah tahun ke-3 kita berjuang untuk terhindar dari pandemi Covid-19. Beberapa pendapat ahli juga tidak mendapatkan perhatian khusus. Beberapa kali Saya mendengar para ahli berkoar-koar agar dapat mendapatkan data yang akurat, karena dengan data yang akurat maka penanganan dan pengambilan keputusan dapat dilaksanakan secara real. Kebanyakan saat ini para ahli-ahli tersebut lebih suka membahasnya di podcast-podcast terbitan luar negeri menggunakan bahasa inggris.

Sedih memang, jika ingin mencari berita terkini dan fakta yang lebih akurat Saya bahkan lebih percaya “latest tweet” dibandingkan Google News, karena Google News yang diatur untuk wilayah Indonesia itu bias banget, dan cenderung menampilkan berita-berita kelas kacang. Kalau Saya atur wilayahnya untuk di US/UK pemberitaan tentang Indonesia cenderung sedikit. Algoritma nya benar-benar menjebak kalau ga hati-hati. Sama juga dengan Twitter, Saya lebih memilih latest tweet dibandingkan dengan mode “Home“, karena kadang yang viral orangnya itu-itu aja. Haha. Setidaknya dengan latest tweet Saya mendapatkan berita dari akun-akun berita yang real dan fresh. Yah, walaupun sebenarnya juga kebanyakan berita tentang topik luar negeri dibandingkan dengan berita Indonesia, tapi yaa lebih berimbang deh. Saya mendapati informasi yang telah Saya dapat di twitter mengenai perkembangan terbaru, baru muncul 3 hari setelahnya di Televisi/Portal Berita Indonesia.

Pedih sih emang, kalau kita sendiri aja dalam proses pencarian informasi harus megap-megap begini. Kesana-kemarin mencari informasi yang relevan dan akurat. Sebenarnya informasinya ada, namun tidak dimunculkan ke permukaan. Lalu apa solusinya? 🙃🙃🙃

Pertanyaannya adalah seberapa jauh kita ingin berhenti dari hanyutan flow sosial media dan berita-berita kacangan? (a question I ask for myself) Seru sih emang, tapi kan ga ada manfaatnya. Dan diharapkan Kita bisa tetap aware dengan kondisi sekitar dan bisa melihat dan menghargai perspektif orang lain.

Mudah

Mudah menceritakannya padamu. Menyakini pilihanku.

Namun memahamimu, tidak. Terbelah di ujung dua setapak.

Sang Beta dan Omega. Menatap dunia jingga.

Hujan deras berjatuhan. Menganggu ketabahan.

Kelap bintang malam, matahari temaram.

Genggam menjerat, mendekap tertumus. Cengkram tertambat, berdekat lurus.

Tanpa tertepis, pergi berlepas.

Dalam istikharah, hati berserah.

Suara angin, melintasi angan.

Semua basah, oleh kesah.

Anomali kata, terucap pinta.

Kalau begitu mudah, mengapa berantah.

Mimpi

Berdoa dan bermimpi pertemuan.

Sentuhan menepis kepiluan.

Waktu terlewati dalam kesunyian memekakkan.

Titik kesempatan mengecil, menyeruak maju.

Angin meniupkan hambatan.

Menanti pertatapan atas izin.

Semilir udara dingin merayap, mengaburkan jarak pandang.

Seluas hamparan gurun, namun tenggelam.

Berjuang sukar mengarungi ombak.

Menguji rasionalitas.

Menetapkan hati untuk merelakan.

Terjebak lautan.

Terombang-ambing pada tali keseimbangan.

Mengembara dalam dua waktu berbeda.

Bersyukur

Sudah berapa lama bagi kita untuk berjalan dan “menganggap” normal sebuah situasi? Atau ketika menjalani hidup dan merasa lelah, seakan kehidupan tidak memiliki kesudahan. Atau ingin keluar dari sebuah siklus dan memilih arah berbalik? Ketika akhirnya ruangan cermin tempat kita berada pecah dan menampilkan realita terselubung. Crystal clear ephipany terjadi bukan ketika kaca yang kita gunakan untuk melihat dunia luas berubah jernih setelah dibersihkan, namun seharusnya di awal kaca itu tidak ada.

November 30, 2020

Solos – Review & Notes

Saya memutuskan untuk berhenti mencari pengalihan dari streaming app. Saya menyadari sesuatu dari serial Solos, ironisnya dari series streaming app tersebut Saya belajar haha. Perasaan takut, perasaan tidak ingin sakit, perasaan kehilangan itu adalah hal yang membuat kita menjadi manusia, namun kita sering mencari semacam penambal untuk perasaan itu. Saya ga mau memori Saya terisi dengan hal-hal yang tidak ada hubungannya dengan Saya. Ini ga sehat. Sering kali ketika kita mencoba mengalihkan dunia dari kenyataan, kita sudah terlambat untuk kembali.

Dengan mudahnya Saya mencari hiburan dengan sentuhan jari. Sampai akhirnya malah menghilangkan jati diri dan mematikan rasa. Bukan juga Saya menyatakan tidak menjalani hidup Saya per se, tapi ada sesuatu yang hilang dan mengganjal belakangan Saya rasakan, walaupun menonton streaming app itu adalah salah satu bentuk menghibur diri dari kesibukan dunia tapi malah kembali menghibur diri dengan tontonan dunia.

Meninggalkan itu semua bukan proses yang mudah. Apalagi ketika sudah terbiasa. Namun ini harus berakhir. Banyak adegan di dalam Solos yang menyentil hati kecil Saya. Dan Saya rasa kita semua sedang mengalaminya saat ini.

July 28, 2021

Sampai Kita Bertemu Lagi

Kemarin tiga orang berturut-turut yang Saya kenal meninggal… Lelah hati, khawatir, rancu, sedih, bingung, marah, bertanya-tanya dan perasaan negatif lainnya menjadi satu. Benar-benar cape.

Terkadang Saya suka ga percaya bahwa orang yang Saya kenal pergi begitu saja melanjutkan perjalanannya ke fase berikutnya. Tidak mengira, Saya masih berharap memiliki waktu banyak di dunia ini cuma untuk sekedar say hello.

Mudah-mudahan Allah SWT pertemukan kita nanti di surga-Nya kelak. Aamiin Ya Rabbal Alamiin.

– July 11, 2021

%d bloggers like this: