Melihat ke Diri Sendiri

Belakangan Saya sadar, kenapa selama ini Saya menulis, terutama disaat Saya merasa sedang tenang dan bersemangat. Ini adalah cara Saya untuk mempertahankan state of mind. Untuk tetap “waras”. Setiap Saya kembali ke tulisan-tulisan Saya, Saya berpikir, “Wah iya juga ya, kemarin udah ngerasain itu, begini solusinya, tidak perlu khawatir”. Kadang itu, karena terdistraksi kita lupa akan hal-hal yang kita anut. Lupa akan pegangan diri dan kemudian diri sendiri lah yang mengingatkannya.

Saya kebanyakan menulis ketika merasa letih dan tidak melihat ujung horizon dari suatu hal, atau ketika Saya terinspirasi sekali. Atau ketika menemulan pembelajaran ketika mengobrol dengan senior. Tapi kebiasaan ini sulit banget untuk dipelihara, menulis membutuhkan waktu dan state of mind, dan akhirnya Saya malah memutuskan untuk mengabaikannya padahal menulis itu adalah salah satu bentuk terapi bagi diri Saya haha. I know, I’m a fool.

Kadang kita kebiasaan untuk berfokus ke hal lain, berjaga-jaga mencari info, kesenangan sampai lupa mengecek diri sendiri. Mencoba untuk mencari mengerti situasi. Akhirnya kerepotan sendiri dengan menjadi detektif amatir. Well hampir selalu, hidup itu tidak bisa terprediksi, bahkan tidak 2 detik ke depan. Selalu ada tanya “What if“,  pertanyaan sia-sia yang selalu muncul belakangan menanggapi situasi yang tidak kita inginkan…

Yang bijak adalah ketika kita cukup mengamati situasi seperti apa-adanya, tanpa perlu memusingkan hal yang kita tidak ketahui hakikatnya. Mencoba untuk tetap fokus ke hal yang ada di hadapan kita. Menarik dan menghela nafas dengan teratur. Kadang jawabaannya bukan di orang lain kok, tapi di diri sendiri yang lupa.

Banyak hal yang akan terus menghantui dan menjadi pertanyaan, namun hal itu tak sebanding dengan sakit kepala yang didapat ๐Ÿ˜… Kalau penasaran dengan sesuatu boleh kok di konfirmasi, tapi kalau tidak dapat jawabannya ya tidak masalah. Antara penasaran dengan jawaban bukan masalah hidup atau mati toh. Yup, walaupun akan greget karena tidak mengetahui jawabannya.

Jadi kalau lagi ingin mencari tau sesuatu apa yang harus dilakukan? Bertanyalah pada ahlinya, itu saran Saya. Kadang walaupun kita punya sahabat, mereka belum tentu mengerti posisi dan solusi untuk ditawarkan. Malah kadang akan membuat pusing sahabat kita juga. Tidak bijak untuk menimpakan kekhawatiran kepada sahabat kita tanpa ia sendiri tau jawabannya. Mungkin untuk mencari support boleh, tapi kalau yang diceritakan itu lagi itu lagi, mungkin ia akan jenuh.

Jangan sedih, jangan gundah, karena apa yang sudah terjadi memang sudah takdir Allah SWT. Sulit emang untuk menyadari bahwa tali kendali bukan di Kita ๐Ÿ˜ฅ kadang bisa aja lupa karena sibuk menjalani kehidupan atau bahkan menghindari kehidupan. Tidak apa-apa itulah seni kehidupan. Walaupun Saya juga tidak memahami seratus persen (haha gaya aja itu mah).

Tidak apa-apa, bisa yok untuk menemukan solusi, walau bukan sekarang. Yok dilalui dengan perlahan dengan mata terbuka lebar meniti arus kehidupan dengan keyakinan pada diri sendiri. ุจูุณู’ู…ู ุงู„ู„ู‘ูฐู‡ู ุงู„ุฑู‘ูŽุญู’ู…ูฐู†ู ุงู„ุฑู‘ูŽุญููŠู’ู…ู

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: