Kebenaran

Mencoba mengubah point of view dari diri sendiri dan melihat penjelasan dari pihak lain dibutuhkan banyak kesabaran. Kalau ditanya, emang kadang lebih enak dan seru mengandalkan logika pribadi, tapi masalahnya logika pribadi itu bias. Yang kita ketahui ya hanya sebatas yang kita ketahui. Makanya dalam penelitian itu wajib hukumnya wawancara, karena kita ga bisa paham dengan sendirinya, karena ga merasakan pengalaman pihak lain. Kadang emang merasa hopeless karena bergantung dari penjelasan pihak lain. Tapi sepertinya kalau tidak seperti itu, kapan kita akan paham kebenarannya.

Tapi ga semuanya juga bisa menjelaskan pointnya secara runut dan mudah dipahami, makanya harus pintar-pintar juga membaca situasi. Peneliti diminta untuk sigap & menerjemahkan kondisi dari berbagai sisi. Lalu apakah bisa salah baca keadaan? Yesss, most of the time. Makanya disuruh mencoba dan belajar berkali-kali, biarpun sakit tapi jalan untuk mencari kebenaran tak pernah putus. Yang bahaya adalah ketika kita berhenti mencari. Mungkin frustasi awalnya karena tak kunjung menemui jawabannya.

Gampang memang untuk memalingkan muka, dengan mencari pengalihan. Tapi lama-lama juga niscaya akan merasa tak kerasan, karena kebenaran itu ada, walaupun akan susah ditemukan. Yang bisa dilakukan adalah untuk tetap melangkah kedepan, at least sudah beranjak dari tempat memulai. Lalu bagaimana jika jawaban yang ditemukan tidak sesuai hati? Well… itulah kebenarannya, kita tidak bisa memilih jawaban yang kita suka. Tidak ada pengaruhnya ketika kita menyukai nya atau tidak, itulah kenyataannya.

Gapapa kok untuk berkeliling mencari kebenaran, gapapa untuk melihat dari segala sisi, gapapa untuk meninggalkan ruang nyamanmu. Gapapa untuk tidak mengerti pada awalnya. Lalu apa yang terjadi jika kebenaran sudah diketahui? Yang awalnya pengen banget tahu kebenaran, sekarang bertanya-tanya kembali haha. Hmm, mungkin kebenaran yang dimiliki sekarang bisa digunakan untuk melangkah pelan-pelan dengan penuh kehati-hatian?

Kalau disuruh milih, mengetahui kebenaran yang menyakitkan atau tidak tahu sama sekali mana yang akan dipilih? Pada akhirnya denial ada batas waktunya, dan mau ga mau kita akan dituntut menghadapinya. Jika mendapat pemahaman baru intinya kita diberikan pendewasaan tambahan. Siapa yang ga mau dong skill tambahan. Ya ga? Hahaha ada juga kok yang milih untuk stay in the dark, and that’s perfectly fine. But I rather know the truth.

Lalu bagaimana jika dipercayai untuk memegang kebenaran? Jika kebenaran itu membahayakan dirinya dan orang lain, ada baiknya disampaikan. Dan hal tersebut, tentunya akan menimbulkan ketidak nyamanan pada awalnya, lalu mudah-mudahan diikuti dengan ketenangan. Btw, kebenaranmu dan kebenarannya bisa berbeda loh, jadi kebenaran mana yang mau dipegang pada akhirnya? Jika kamu sudah melakukan segala usaha dan kamu memegang teguh prinsipmu, maka dirimu berhak untuk memegang kebenaran tersebut, namun hilangkan arogansi dan yakin tidak ada manusia yang sepenuhnya benar.

Semoga segera menemukan kebenaran.

2 thoughts on “Kebenaran

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: